Hidup hanya sekali, jangan menua tanpa karya dan inspirasi

Minggu, 24 Mei 2015

Semua Tentang Tafsir BKI

             Hari ini adalah hari yg sangat kutunggu-tunggu, karena hari ini merupakan awal dari perkuliahan saya di semester 2 ini. Setelah 2 bulan lamanya liburan, yang kita isi liburan tersebut dengan belajar bahasa Inggris di kampung Inggris Pare selama sebulan, dan pulang ke kampung halaman untuk sisanya yang satu bulan lagi. Akhirnya, mulailah perkuliahan untuk semester 2 ini.

           Pagi yang cerah, tepat sekali untuk suasana perkuliahan pada hari pertama di semester 2 ini. Suasana sekitar kampus menjadi lebih sejuk dibandingkan semester lalu. Karena memang pada malam kemarin hujan mengguyur kota Surabaya ini. Sehingga kesejukan malam hari masih terasa sampai pagi hari. Tapi, kesejukan yang ada saat itu tidak bertahan lama, karena kampus UIN Sunan Ampel Surabaya sedang dalam rekonstruksi pembangunan besar-besaran, mobil-mobil berat keluar masuk kampus membawa bahan-bahan bangunan. Debu-debu beterbangan tertiup angin, menjadi polusi bagi setiap mahasiswa yang sedang belajar di kampus. Tapi hal tersebut tidak menurunkan semangat para mahasiswa dalam mencari ilmu di kota seribu taman ini.  

            Pukul 07.45, setelah masuk kelas intensif bahasa arab, saya langsung menuju ke ruang kelas D1.203, kelas yang pertama kali saya tempati untuk belajar pada semester 2 ini. Setelah masuk ke dalam ruangan, saya bertemu kembali dengan teman-teman, keluarga besar CSSMoRA 2014 yang telah menyertai perjuangan saya selama setengah tahun di Surabaya ini, dan akan terus melanjutkan perjuangan kami hingga 4 tahun mendatang. Saya pun berbincang-bincang dengan mereka tentang berbagai hal, baik itu tentang liburan mereka di rumah, ataupun tentang teman-teman saya yang melanjutkan masa belajar bahasa Inggris nya dulu di Pare. Perbincangan hanya berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, datanglah dosen yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua, dengan kewibawaannya yang sangat khas.  karena beliau pernah mengajari kami pada semester lalu. Yaitu, pada mata kuliah Ilmu Dakwah. Saya pun sangat bangga bisa bertemu dengan beliau untuk yang kesekian kali nya di kelas ini, yang pastinya dengan mata kuliah yang berbeda, yaitu mata kuliah Tafsir BKI.
            Setelah beliau masuk kedalam kelas dan mengucapkan salam. Seketika itu kelas menjadi hening tanpa suara. Saya pun menyimak apa yang di katakan oleh beliau selama kuliah berlangsung. Saya merasa sangat beruntung sekali bisa bertemu beliau pada semester kedua ini, karena mata kuliah Tafsir BKI ini berjumlah 4 SKS, jadi saya pun bisa lebih lama lagi berbincang-bincang dengan beliau dalam forum kelas, baik itu dalam hal pelajaran, maupun tugas yang akan kami terima dari beliau. Teman saya mungkin merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan, karena memang beliau adalah dosen favorit kami sejak kita mengenal beliau pada saat matrikulasi bulan Agustus tahun lalu. Mungkin, jika saya mengadakan angket tentang dosen terfavorit selama kuliah di UIN ini, mayoritas dari mereka atau bisa jadi semuanya menjawab bahwa dosen terfavorit bagi mereka adalah Prof. Dr. Moh Ali Aziz, S.Ag. dikarenakan keterbatasan biaya, jadi saya tidak mengadakan angket tersebut (hehehe... program kerja belum terlaksana tuh....).
            Menurut pengalaman saya pada semester kemarin, tugas yang akan diberikan oleh pak prof itu pasti tugas yang sangat berbeda dari yang lainnya. Dan ternyata, dugaan saya selama ini benar. Pak prof pun memberikan kami tugas untuk mencari tafsir-tafsir dari ayat-ayat yang terdapat dalam silabus mata kuliah tafsir BKI. Dalam silabus tersebut terdapat sekitar 40 ayat yang berkenaan tentang bimbingan konseling islam. Mulai dari bab tentang dakwah yang memiliki subbab tentang : kewajiban dakwah, metode dakwah, dan mitra dakwah. Kemudian bab tentang potensi positif manusia yang terdiri dari beberapa subbab yaitu : memiiki potensi kebaikan, sabagai makhluk yang terbaik, memiliki akal dan rasa untuk berfikir (ulul albab), dan memiliki kelengkapan indera. Selanjutnya yaitu bab tentang sifat-sifat negatif manusia. Bab ini memiliki subbab terbanyak di banding dengan bab yang lainnya. subbab dari bab ini terdiri dari : menyekutukan Allah (syirk), mencela; berburuk sangka (su’u dzon) dan mencari kesalahan orang lain, kikir; mudah marah dan sulit memaafkan orang, iri dan dengki, keluh kesah, labil keimanan, mengesampingkan akal, mengedepankan nafsu Al-Fujurah, Al-Sawwalah, dan Al Lawwamah, tergesa-gesa, berlebihan dalam sandang pangan dan papan, kufur; kurang apresiasi kepada Allah dan manusia. Setelah itu terdapat bab tentang prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Dalam bab ini terdapat banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki hubungan yang erat dengan bimbingan dan konseling islam. Diantara prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang terdapat dlam silabus tafsir BKI ini adalah : bersemangat atas panggilan agama, motivasi persaudaraan dan tolong menolong, memberi kemudahan, tidak menyulitkan atau memberatkan klien, memberi nasehat secara bertahap, menjaga kehormatan setiap individu, persuasif tidak mendikte atau memaksa, dialogis, memberi kesempatan untuk berfikir, menggunakan kata-kata lembut, mengesankan, dan menyemangati (qaulan layyina, qulan tsaqila, qaulan sadida, qaulan makrufa, qaulan baligha), meyakinkan solusi masalah dengan dzikir, istighfar, taubat, dan pembiasaan hal yang baik, serta dengan shalat yang khusyuk.
            Pak prof pun membagi saya dan teman-teman saya menjadi 3 kelompok, masing-masing tiap kelompok berjumlah sepuluh orang. Kelompok pertama mencari tafsir dari ayat tersebut berdasarkan kitab tafsir Al-Munir karangan Wahbah Az-Zuhaily, kelompok kedua mencari tafsir dari ayat tersebut dari kitab tafsir Ibnu Katsir, kemudian kelompok ketiga menurut kitab tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Dalam menentukan kelompok, masing-masing dari kita harus memilih diantara 3 kelompok tersebut. Saya pun memilih kelompok pertama, yaitu kellompok yang mencari tafsir ayat-ayat BKI bersandarkan pada kitab tafsir AL-Munir karangan Wahbah Az-Zuhaily yang berbahasa Arab. Sedangkan 2 kelompok lainnya menulis tafsir dengan berbahasa Indonesia.
            Pada awalnya, saya mengira akan lebih mudah menulis tafsir dari ayat-ayat tersebut dengan berbahasa Indonesia. Tapi, setelah saya berpikir lebih jauh lagi, ternyata paling mudah menulis tafsir dengan berbahasa Arab. Karena, ada sebuah program komputer yang dapat membantu kita mengerjakan tafsir berbahasa Arab tersebut. Istilah kerennnya itu kita hanya tinggal “copy & paste” langsung dari komputer dan memindahkannya ke lembar kerja kita di Microsoft Word. Memang terlihat sangat mudah, tapi kita harus membaca terlebih dahuku apa yang akan kita copy paste dari maktabah shamela. Jangan sampai kita hanya copy paste saja tanpa memperhatikan apa yang seharusnya di copy paste dan yang tidak.

            Bagian yang paling sulit dari kelompok pertama itu menentukan kesimpulannya, karena tafsir dan munasabah ayng kita tulis itu berbahasa arab, maka kesimpulan yang kita buat pun harus berbahasa arab.
            Sebelum kita memulai untuk menulis tugas kuliah yang kali ini di berikan pak prof Ali, beliau memberikan sedikit pengarahan bagaimana cara menentukan munasabah suatu ayat dengan ayat yang lainnya. Beliau menjelaskan bahwa munasabah itu harus kita hubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya. Sebagai contoh, jika kita menentukan munasabah dari surat Al-Baqarah ayat 21, maka kita munasabahkan dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat 20, 19, 18 dan seterusnya. Apabila kita tidak menemukan munasabah pada ayat sebelumnya, maka kita boleh menghubungkannya dengan surat sebelumnya. Beliau mengatakan bahwa dalam menentukan munasabah suatu ayat itu bersifat subjektif, karena setiap munasabah yang ditentukan oleh para mufassir yang pernah kita temukan di kitab-kitab tafsir itu berbeda-beda. Bahkan, ada kitab tafsir yang tidak menyimpan munasabah ayat di dalamnya. Tetapi beliau mengatakan kita memang harus bisa untuk menentukan munasabah ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Beliau juga mengatakan bahwa setiap ayat AlQur’an yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW, pasti saling berkaitan satu sama lain. Maka dari itu, beliau mengajarkan kami bagaimana cara menentukan munasabah ayat. Beliau juga mengajarkan cara menentukan kalimat-kalimat atau statement yang pas untuk tulisan munasabah.
            Tidak lama setelah beliau menjelaskan tentang bagaimana cara menentukan munasabah suatu ayat, kuliah pada hari pertama pun beres. Saya pun bersalaman dengan pak prof sebelum pulang. Senang sekali rasanya, bisa bertemu kembali dengan dosen favorit untuk kedua kalinya pada semester kedua ini. Beliau memang menjadi dosen favorit di kelas kami karena beliau banyak sekali memberikan motivasi-motivasi tentang kehidupan. Beliau pun juga mengatakan bahwa kelas kami ini memang kelas yang luar biasa dan beliau sangat membanggakan kelas kami.
            Setelah itu, kelompok pertama yang mencari tafsir berdasarkan kitab tafsir Al-Munir berkumpul untuk pembagian tugas. Karena memang ini tugas kelompok, sudah menjadi sebuah keharusan pembagian tugas dalam kelompok agar pekerjaan yang kita lakukan tidak terbengkalai dan menjadi lebih cepat selesai. Dan kita pun terbagi menjadi 4 kelompok, kelompok pertama bertanggung jawab atas bab pertama yang isi nya tentang dasar-dasar  kewajiban dakwah dengan subbab kewajiban berdakwah, metode dakwah, dengan mitra dakwah. Mereka terdiri dari 2 orang, yaitu M. Alghifari dan Ahmad Jadulhaq Halim. Kemudian kelompok kedua bertanggung jawab atas bab kedua yang isi nya tentang potensi positif manusia dengan subbab memiliki potensi positif, sebagai makhluk yang terbaik, memiliki rasa dan akal untuk berfikir (ulul albab), dan memiliki kelengkapan indera. Mereka terdiri dari 2 orang juga, yaitu Siti Khoirunnisa Wulandari dan Rafikah. Setelah itu kelompok ketiga bertanggung jawab atas bab ketiga yang memiliki pembahasan yang sangat banyak tentang sifat-sifat negatif manusia, bisa dibilang bab ini memiliki pembahasan terbanyak dibanding dengan bab-bab lainnya, bab ini memiliki subbab tentang menyekutukan Allah SWT, mencela orang lain; su’udzon; dan mencari-cari kesalahan orang lain, kikir; mudah marah; dan sulit memaafkan orang lain, dengki, keluh kesah, labil keimanan, mengesampingkan akal, mengedepankan nafsu Al-Fujuurah; Al-Sawwalah; dan Al-Lawwamah, tergesa-gesa, berlebihan dalam sandang, pangan dan papan, kufur; kurang apresiasi kepada Allah SWT dan manusia. Adapun yang memiliki tanggung jawab atas bab ketiga ini memiliki jumlah yang lebih banyak dari kelompok pertama, mereka adalah Nursabila, Lia Luthfiana Febria, dan Sofiatul Jannah. Kemudian yang terakhir adalah kelompok empat, mereka bertanggung jawab atas bab yang terakhir atau bab empat, dan memiliki subbab tentang bersemangat atas landasan panggilan agama, motifasi persaudaraan dan tolong menolong, memberi kemudahan; tidak menyulitkan atau memberatkan klien, memberi nasihat secara bertahap, menjaga kehormatan setiap individu, persuasif; tidak mendikte atau memaksa, dialogis, memberi kesempatan untuk berfikir, menggunakan kata-kata lembut; mengesankan; dan menyemangati (qaulan layyina, qaulan sadida, qaulan baligha, qaulan tsaqila, dan qaulan makrufa), meyakinkan solusi masalah dengan dzikir, istighfar, taubat, dan pembiasaan hal-hal yang baik, dan dengan sholat yang khusyuk. Adapun yang bertanggung jawab atas bab keempat ini juga berjumlah 3 orang, mereka adalah, Jajang Supriatna, Rahmat Faisal Nasution dan saya sendiri. Saya pun mendapat tugas plus untuk mengumpulkan tugas-tugas dan menyusunnnya setelah mereka semua selesai mengerjakan tugas-tersebut. Dan aku pun memberi batas terakhir tugas harus dikumpulkan maksimal hari Jum’at, karena menyusun hasil tugas yang sudah dikerjakan oleh yang lainnnya bukan merupakan hal yang mudah dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dan menyelaraskan tulisan kelompok yang lain dengan kelompok yang satunya.
            Hari demi hari selama seminggu berlalu, terasa sangat cepat sekali perputaran waktu selama satu minggu ini, dan akhirnya tibalah hari Jum’at dimana saya harus mengumpulkan tugas-tugas yang telah mereka kerjakan selama seminggu tersebut. Saya pun menagih janji kepada mereka semua, dan hampir semuanya sudah mengumpulkan tinggal yang tersisa adalah kelompok tiga, mereka pun masih belum beres dan mereka bilang kalau mereka mendapat kesulitan ketika menentukan kesimpulan dari setiap ayat. Saya memakluminya karena memang hal yang tersulit dalam kelompok kami itu adalah menentukan kesimpulannya yang berbahasa Arab, saya juga merasakan demikian. Mungkin hal itu disebabkan karena kita jarang mempraktekan bahasa arab dalam keseharian kita, dan hal tersebut sudah berjalan selama satu semester. Teringat akan hal yang pernah dikatakan guru saya ketika saya masih di pondok dulu, bahwasanya dalam pembelajaran bahasa yang efektif harus disertakan dengan lingkungan yang baik dan mendukung pembelajaran kita. Dan jika tidak kamu biasakan dalam percakapan sehari-hari, akan sangat sulit bagi kita untuk mengungkapkan sesuatu dengan bahasa asing tersebut, begitu pula dengan kesimpulan dari ayat yang harus kami buat dengan berbahasa Arab. Tapi tidak apa-apa, hal tersebut bukan menjadi suatu penghalang bagi kita. Kita yakin pasti kita dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Dan akhirnya kelompok yang membahasa bab ketiga pun dapat menyelesaikannya dan mengumpulkannya kepada saya pada hari Ahad siang.
            Setelah semuanya terkumpul, saya pun langsung menyusun seluruh bab dari bab pertama sampai bab terakhir, dan menyesuaikan tulisannya hingga seluruh bab semuanya tersusun rapih tulisannya, marginnya dan paragrafnya. Dan tak lupa juga saya menyusun halaman-halamannya. Ternyata setelah digabung dan diatur paragrafnya, halaman yang telah kita kerjakan mencapai 148 lembar. Dan ini pun tugas terbanyak yang pernah kami terima. Sampai-sampai ketika saya ingin mencetak atau  ngeprint tugas yang telah selesai saya susun dari siang hingga malam hari pukul 20.00, sang bapak penjaga fotocopy bertanya kepada saya, “mas, ini tugas kuliahnya tebel banget, kaya bikin skripsi aja.” Saya pun tersenyum setelah mendengar kata-kata tersebut. dalam hati saya berkata, “yahh, itung-itung latihan skripsi lah pak.”
            Lama sekali mencetak atau membuat print out tugas tersebut. Di samping itu juga ada banyak mahasiswa lain yang ingin mencetak tugasnya, dikarenakan hari esok adalah hari senin. Yang kata orang-orang merupakan hari awal memulai aktifitas mingguan seperti biasanya setelah weekend. Setelah beberapa saat, tugas tersebut telah selesai dicetak, dan benar, tugas yang kita buat ini benar-benar seperti skripsi. Dan setelah membayar tugas yang telah diprint, saya kembali ke asrama.
            Keesokan harinya, kita masuk kuliah seperti biasa. Dan pak prof bertanya kepada kita semua apakah kita semua sudah selesai mengerjakan tugas tersebut. Kami pun serentak menjawab bahwa kami telah selesai mengerjakan tugas. Setelah itu, beliau meminta kita semua untuk duduk membentuk halaqoh pada setiap kelompok. Beliau mengatakan, “untuk sekarang kita akan membahas tentang tata cara penulisan tugas kalian, dimulai dari kelompok pertama.” Saya pun langsung menyerahkan tugas tersebut, dan beliau pun mulai mengoreksi. Ketika pertemuan yang pertama, beliau mengatakan bahwa kita diberi kesempatan 11 kali untuk memperbaiki tugas yang telah kita tulis. Dan ini adalah hari pertama tulisan kami di perbaiki oleh beliau. Banyak sekali kesalahan-kesalahan yang ada dalam tulisan kami, baik itu kesalahan yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, baik itu kesalahan tulisan, materi, munasabah, kesimpulan atau bahkan masalah bahasa nya. Seperti contoh kesalahan kami dalam penulisan seperti kurang titik, kurang spasi, spasi terlalu lebar, ataupun salah ketik. Begitu pula kesalahan-kesalahan kami dalam membuat kesimpulan, beliau mengatakan banyak sekali kesalahan-kesalahan dalam bahasa, karena beliau berkata kalau kesimpulan yang diungkapkan dengan bahasa Arab tersebut terlalu mengada-ada dan bahasanya terlalu dibuat-buat. Banyak sekali kesimpulan-kesimpulan yang kami tulis tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, baik itu Qowaid, Shorof, Balaghoh, Uslub dan lain-lain sebagainya. Untung saja ketika itu beliau belum melihat semua tulisannya. Beliau masih melihat bagian depannya saja seperti daftar isi, kata pengantar, dan bab pertama. dan beliau hanya mengoreksi susunan bahasa yang terdapat dalam daftar isi yang berupa judul-judul bab dan subbab yang kami ubah bahasanya dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab, kesimpulan-kesimpulan dan munasabah-munasabah pada bab satu dan nomor-nomor halaman yang belum sempat kami ubah menjadi angka berbahasa Arab dikarenakan dihari sebelumnya kami belum sempat mencari font khusus yang dapat merubah angka menjadi angka yang berbahasa Arab. Dan saya sendiri pun belum mengetahui siapa yang memiliki perangkat lunak (Software) untuk font tersebut. Beliau pun memberitahu saya agar menghubungi mahasiswa semester 6 jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) yang beliau kenal bernama Syamsurianto, karena dia memiliki software tersebut. Beliau ingin memberikan nomornya kepada saya, tapi saya berkata kepada beliau, “pak, bukannya Syamsurianto itu yang tinggalnya di Pesma (Rusunawa Raden Rahmatullah)?” Beliau pun menjawab, “iya, tuh kamu tahu kan.” Saya pun mengangguk dan setelah itu beliau berkata, “memang ternyata dunia ini sempit sekali, bahkan kita sering tidak menyadari kalau orang yang sebenarnya sedang kita sangat butuhkan saat ini ada disekitar kita.” Kami pun langsung terdiam sejenak, merenungi perkataan yang telah beliau ucapkan.  
Setelah itu langsung terbesit dalam benak saya muka sombongnya Syamsurianto itu. Sebenarnya saya sangat malas sekali berhadapan dengan dia. Karena dialah yang telah melakukan diskriminasi alias memberikan peraturan yang terlalu berlebihan selama kami diam di rusunawa tersebut. Bukan hanya diriku saja, bahkan semua mahasiswa PBSB yang putra pun sepakat dengan pendapat saya. Karena mereka pun juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih.
Pada hari kedua ini makalah yang telah kita buat menghasilkan koreksian yang sangat banyak. Ternyata, sangat sulit sekali menulis. Tapi beliau mengatakan, “gak apa-apa toh, kan kalian masih punya kesempatan 10 kali lagi. Tenang aja, hidup itu masih koma, bukan titik.” Setelah mendengar kata-kata tersebut, semangat kami dalam mengerjakan tugas yang awalnya semakin redup setelah di beri koreksian yang sangat banyak. Sampaikan jika kami menuliskan kesalahan-kesalahan ketika itu mungkin bisa sampai 5 lembar kertas HVS yang ukuran F4 atau Legal. Saking banyaknya kesalahan itu, menjadi lebih bersemangat lagi dari sebelumnya.
Selesai mengoreksi hasil tulisan setiap kelompok, beliau pun melanjutkan dengan menjelaskan bab pertama subbab pertama yang berjudul kewajiban dakwah. Beliau menyuruh setiap kelompok membacakan ayat-ayat yang terdapat pada subbab kewajiban dakwah tersebut dengan bacaan terbaik kita, dimulai dengan kelompok tafsir Al-Munir, dilanjutkan dengan kelompok tafsir Ibnu Katsir, dan diakhiri dengan kelompok tafsir Al-Azhar. Setelah membacakan ayat tersebut beliau menyuruh setiap kelompok untuk membacakan munasabah-munasabah yang terdapat pada subbab tersebut, urutannya sama seperti yang tadi. Setelah dibacakan semua munasabah beliau menjelaskan munasabah-munasabah pada ayat-ayat tersebut. Setelah itu beliau menyuruh setiap untuk membacakan kesimpulan-kesimpulan ada setiap ayat subbab kewajiban dakwah dan beliau juga menjelaskan sedikit tentang kesimpulan tersebut.
Tak lama kemudian pun kuliah pada minggu kedua selesai. Sebelum keluar kelas, beliau memberitahu kami semua bahwasanya pada hari senin depan beliau tidak bisa masuk mengajar, karena beliau ada tugas keluar negeri. Dan salah satu diantara kami pun bertanya, “berarti minggu depan kosong dong pak?” beliau menjawab, “minggu depan tetap masuk dan saya sudah mendapatkan pengganti saya untuk mengajar pada kuliah minggu depan.” Kami pun bertanya kembali, “siapa penggantinya pak?” “dia mahasiswa lulusan Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir pada semester lalu, dan akan melanjutkan studi S2 nya di UIN Sunan Ampel Surabaya ini.” Setelah itu pun, kelas berakhir dan kami pun langsung keluar kelas.
Ketika saya sampai ke kamar, saya langsung memperbaiki koreksian tersebut, walaupun hanya beberapa koreksian saja yang sempat saya perbaiki karena adanya kegiatan-kegiatan organisasi CSSMoRA, karena sekarang para mahasiswa PBSB yang tergabung dalam komunitas atau organisasi CSSMoRA sedang mengalami masa-masa sibuknya menjadi panitia-panitia acara-acara perlombaan, olahraga dan bazar buku dalam rangka perayaannya Dies Natalies (Ulang Tahun) CSSMoRA tahun ini. Tidak hanya kepanitiaan saja, kami pun disibukkan dengan latihan-latihan penampilan untuk acara puncak Talkshow pada tanggal 16 April 2015. Acara Talkshow tahun ini menghadirkan penulis terkenal dan pernah keliling dunia dengan menulis, dia adalah Asma Nadia, bahkan karyanya pernah dijadikan film yang baru muncul di bioskop akhir-akhir ini. Film tersebut adalah “Assalamu’alaikum Beijing”, film ini merupakan sebuah cerita yang terdapat dalam novel karya Asma Nadia. Tidak hanya itu, acara ini juga menghadirkan penulis terkenal yang berasal dari salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, dan karyanya pun tidak diragukan lagi. Beliau sungguh pintar bermain dengan kata-kata dalam salah satu karya novelnya yang berjudul “Haji Backpacker”, beliau adalah Aguk Irawan. Jadi, untuk minggu-minggu ini kami memfokuskan diri terlebih dahulu untuk menyelesaikan acara ini. Bukan berarti kami meninggalkan tugas kami untuk memperbaiki koreksian-koreksian tersebut, tapi kami hanya mencari waktu kosong yang pas untuk memperbaiki tugas kami.
Minggu malam pun tiba, sekarang waktunya saya untuk ngeprint tugas yang telah di perbaiki sebelumnya. Untuk biaya ngeprint membutuhkan uang sebanyak 20.000 rupiah, jika kami hitung-hitung 11 dikali 20.000, maka seluruh biaya yang dibutuhkan selama satu semester untuk mata kuliah ini adalah sebesar 220.000 rupiah. Benar-benar tugas yang sangat memakan biaya. Tapi kami sekelompok sudah sepakat bahwa untuk biaya mencetak tugas secara bergilir. Karena kemarin ketika tugas pertama kali biaya ngeprint nya dari dompet saya, maka untuk kali ini saya meminta dari salah satu teman sekelompok saya, dan akhirnya dia meminjamkan uang nya tersebut untuk ngeprint. Setelah selesai ngeprint, saya pun kembali ke kamar untuk istirahat dan persiapan kuliah hari esok.
Esok hari pun telah tiba, alhamdulillah akhir-akhir ini saya bisa bangun lebih awal dari biasanya. Pagi ini saya bangun jam 4 pagi, saya pun menyempatkan diri untuk sholat tahajud sebanyak 2 raka’at sebelum datangnya waktu subuh. Setelah datang waktu subuh, saya bergegas untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah di mesjid Ulul Albab, mesjid yang ada didalam kampus. Semoga saja untuk kedepannya saya dapat mendawamkan kebiasaan baik ini. Karena jujur saja, sulit sekali bagi saya untuk bangun pagi, apalagi bangun pagi sebelum subuh. Oleh karena itu, wajarlah kalo saya sangat bersyukur sekali pagi ini bisa bangun pagi sebelum subuh. Dan saya berniat untuk mendawamkan kebiasaan baik ini, semoga Allah mengijabahnya.
Setelah mandi, berpakaian dan mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk kuliah pada minggu ketiga ini, seperti buku tulis, binder, laptop, alat-alat tulis dan buku-buku literatur kuliah yang dibutuhkan,  juga tak lupa untuk membawa tugas mata kuliah tafsir BKI yang sudah diprint malam lalu. Saya pun segera memakai sepatu dan melesat ke kampus dengan kecepatan tinggi. Karena seperti biasanya, ada intensif bahasa Arab di fakultas. Akhir-akhir ini jalan menuju fakultas menjadi sangat becek sekali, hal ini menyebabkan setiap orang selalu mengangkat sebagian celana atau roknya ketika mereka melewati jalan yang terbentang antara gedung rektorat hingga auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya. Hal tersebut disebabkan oleh hujan yang akhir-akhir ini telah turun setelah sekian lamanya kampus yang kita yang gersang ini baru terbasahi air hujan, juga karena proyek pembangunan bangunan-bangunan baru di sekitar jalan dari auditorium hingga gedung rektorat. Sehingga suasana kampus kita menjadi tidak biasanya.
Setelah saya mengikuti intensif bahasa Arab selama satu setengah jam, atau lebih tepatnya dari jam enam pagi hingga jam setengah delapan. Saya langsung masuk ke kelas Tafsir BKI, karena biasanya pak prof itu selalu datang lebih awal, maka saya tidak ingin telihat terlambat. Namun, ketika saya masuk ke dalam kelas, ternyata pak prof belum datang. Maka saya dan teman-teman pun harus menunggu kedatangan beliau. Selang beberapa menit kemudian, datanglah seorang dosen ke dalam kelas kami. Beliau masih terlihat asing di pandangan saya dan teman sekelas saya, karena memang belum pernah terlihat berjalan-jalan di fakultas dakwah ini.beliau berperawakan tidak terlalu tinggi, jika dibandingkan tinggi badannya dengan diriku, beliau kalah tinggi. Beliau memiliki rambut ikal yang disisir ke arah kiri, dengan memakai baju kemeja berwarna putih, dan blazer berwarna coklat, beliau melangkahkan kaki masuk ke kelas ini. Langkahnya terlihat agak tergesa-gesa, dari sini saya bisa mengetahui bahwa beliau adalah orang yang sangat menghormati waktu. Setelah itu, beliau duduk di kursi dosen yang ada didepan kelas, dan beliau mengeluarkan notebook lamanya yang bermerk ASUS, satu merk dengan hape android saya. Setelah mengeluarkan notebooknya, beliau langsung membuka perkuliahan pada pagi ini dengan salam.
Ternyata, seseorang tersebut adalah Ust. Ainul Yaqin yang minggu lalu telah pak prof katakan bahwa ia akan datang menggantikan pak prof, karena beliau ada urusan keluar negeri. Dari gaya berpakaiannya, saya bisa menaksir atau mengira-ngira bahwa ustad pengganti ini adalah orang yang berpendidikan. Ternyata tebakan saya pun benar. Beliau merupakan mahasiswa S1 lulusan Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, beliau menghabiskan waktu 4 tahun di Kairo untuk kuliah. Waktu yang sangat singkat kata beliau, karena beliau mengatakan bahwasanya, sedikit sekali mahasiswa yang bisa lulus dari Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, universitas ternama yang ada di dunia yang mana usia kampus tersebut sudah mencapai lebih dari ribuan tahun. Karena mahasiswa yang ada di sana, mayoritas lulus dalam kurun waktu lebih dari 4 tahun, bahkan mencapai 6 tahun. Maka dari itu, beliau mengatakan bahwa hal ini sangat jarang terjadi, apalagi hal ini terjadi pada dirinya sendiri.
Beliau juga menceritakan tentang suasana-suasana kuliah di luar negeri khususnya di timur tengah seperti Mesir. Beliau mengatakan bahwa mesir merupakan kota yang panas, sulit sekali menemukan tanah yang gembur disana untuk keperluan pertanian. Karena suasana panas tersebut, beliau mengatakan bahwa kita akan merasa malas untuk keluar tempat kos. Karena suasana yang sangat panas sekali. Beliau juga mengatakan bahwasanya jika dibandingkan keramahannya antara masyarakat Mesir dengan masyarakat Indonesia, maka yang lebih ramah adalah masyarakat Indonesia. Kampus di Universitas Al-Azhar pun suasananya sangat berbeda dengan kampus-kampus yang ada di Indonesia, khususnya di kampus kita UIN Sunan Ampel Surabaya. Ternyata perkuliahan di Uniiversitas Al-Azhar tak senyaman kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya, didalam ruang perkuliahan yang ada disana itu tidak memakai pendingin ruangan atau AC (Air Conditioner), kursinya pun masih terbuat dari kayu, apalagi kursi untuk dosennya, tak ada satupun kursi yang ada disana seperti kursi yang biasa kita temukan di kampus kita, kursi yang kerangkanya dari besi dan beralaskan busa pada tempat duduknya dan sandaran kursinya. Bahkan, kursi dosen yang ada di Universitas Al-Azhar Kairo tidak ada sandaran kursinya. Itulah kursi dosen di universitas ternama, sangat berbeda dengan kursi dosen yang ada di kampus kita, yang masih memiliki sandaran tempat punggung bersandar apabila telah lelah. Beliau mengatakan, “mungkin karena kezuhudan beliau para ustadz-ustadz yang ada di Al-Azhar yang menyebabkan Universitas ini bertahan hingga ribuan tahun.”
Beliau juga merupakan orang yang sangat taat kepada orang tuanya, hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan beliau ketika sebelum dia masuk ke Universitas al-Azhar Kairo-Mesir, bahwa beliau selalu meminta restu dari orang tuanya, dan jika seandainya orang tuanya tidak mengizinkan beliau untuk kuliah di luar negeri, mungkin beliau akan mengurung niat untuk pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau juga mengatakan bahwa setiap kali beliau harus memutuskan sesuatu perkara, maka beliau akan datang kepada orang tuanya. Ketika sedang berlangsung perkenalan diri dari Ust. Ainul Yaqin, tiba-tiba salah seorang dari kami ada yang bertanya, “Apa dulu ustadz melakukan sholat istikharah dulu sebelum melanjutkan kuliah ke Kairo?” beliau pun menjawab, “selama kedua orang tua saya masih ada di dunia, khususnya ibu saya, maka, setiap keputusan ibu saya adalah hasil dari istikharah saya.” Subhanallah...! saya pun sangat terkagum-kagum dengan pernyataan beliau. Beliau benar-benar orang yang patut untuk dijadikan panutan bagi kita semua. Karena ketaatan beliau kepada orang tua sangatlah luar biasa. Sejenak aku berfikir, apakah aku sudah taat kepada orang tua? Apakah aku sudah menuruti setiap perkataanya? Ataukah aku malah mengecewakannya? ingin rasanya aku  melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuaku, mudah-mudahan semua yang aku lakukan saat ini mendapat restu dari keduanya. Dan semoga saja, kedua orang tuaku di Jakarta semuanya dalam keadaan sehat wal’afiat. Amiin.
Setelah beliau memperkenalkan diri, sekarang giliran kami sekelas memperkenalkan diri kepada beliau. Lalu beliau pun membacakan daftar hadir dan menyuruh seseorang yang telah disebut namanya untuk berdiri dan memperkenalkan diri mereka. Satu per satu dari kami pun memperkenalkan diri dengan menyebut nama lengkap kami dan daerah asal kami. Akhirnya beliau menyadari bahwa kami semua kebanyakan berasal dari luar pulau. Karena kami adalah mahasiswa PBSB yang di biayai oleh pemerintah.
Setelah kami memperkenalkan diri masing-masing pun kami memulai proses perkuliahan sebagaimana yang telah pak prof lakukan pada hari sebelumnya, yaitu beliau menyuruh kami untuk duduk berkelompok sesuai dengan kelompok kita masing-masing. Dan sesudah kami membereskan duduk kami perkelompok, beliau bertanya terlebih dahulu tentang materi terakhir yang telah pak prof ajarkan kepada kita. Kami pun memberitahu beliau bahwa beliau baru mengajarkan ayat pertama saja. Yaitu tentang dasar-dasar kewajiban dakwah dengan subbab kewajiban dakwah. Dan setelah itu beliau menyuruh kami untuk membacakan ayat-ayat, munasabah, dan kesimpulan yang telah kami buat dari bab kewajiban dakwah dengan subbab metode dakwah dan mitra dakwah. Beliau pun juga menjelaskan sedikit yang beliau ketahui tentang ayat tersebut. Mungkin memang kali ini adalah pertama kali beliau mengajarkan tafsir, jadi beliau agak-agak kaku dalam mengajarkan mata kuliah ini. Lagipula sebenarnya beliau ketika kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, beliau mengambil mata kuliah jurusan Hadist. Oleh karena itu, merupakan hal yang maklum jika cara mengajar beliau agak kaku untuk pertama kalinya. Karena memang, derajat keilmuan beliau memang belum sederajat dengan keilmuan Pak prof. Moh. Ali Aziz M.Ag. Tetapi, Walaupun begitu, beliau merupakan orang kepercayaan beliau.
Dua jam pun telah berlalu, tiba-tiba pak prof menelpon ke hape ustadz Ainul Yaqin. Beliau pun bertanya kepada Ustadz Ainul Yaqin, apakah ia sudah masuk ke kelas yang beliau tiketkan, kemudian ustad ainul yakin menjawab bahwa beliau sudah masuk kedalam kelas tersebut. Beliau mengatakan lagi lewat telepon, bahwa kami sekelas adalah murid terbaiknya bagi beliau. Sejenak aku berfikir, bagaimana bisa seorang profesor yang sangat sibuk dengan tugasnya di luar negeri, masih sempat-sempatnya menelepon kami, dan menanyakan bagaimana kabar kami. Ternyata benar, beliau sangat membanggakan kami semua, beliau juga berharap agar kami mendapat lebih dari yang kami butuhkan di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Karena mungkin kami memang berasal dari jauh, dan akan menjadi hal yang sia-sia jika kuliah kami tidak mendapatkan lebih dari pada mahasiswa lain yang bukan beasiswa atau yang berada di sekitar daerah Surabaya ini.
Salah satu hal yang beliau berikan kepada kami agar kami mendapatkan hal yang lebih dari sekedar perkuilahan biasa adalah kami diwajibkan untuk menulis sebuah tulisan, entah itu kesan-kesan untuk beliau atau cerita apalah, hingga mencapai 50 lembar per orang. Aku berfikir, apakah aku yakin, dapat menyelesaikan tugas ini atau tidak. Mudah-mudahan saja, setelah aku dapat menulis 50 halaman, semoga saya bisa menjadi seseorang yang dapat menghasilkan karya yang banyak yang dapat bermanfaat bagi, entah itu berupa tulisan atau karya lainnya. karena memang saya pun berharap agar dapat dikenal orang banyak karena dapat meiliki manfaat bagi semua orang. Saya yakin bahwa saya bisa menghasilkan karya yang sangat bermanfaat untuk kedepannya, karena hingga saat ini saya sudah menghasilkan karya-karya yang bagus menurut orang-orang yang ada disekitar saya. Saya ingin sekali memperkenalkan karya-karya saya kepada pak prof. Dengan karya yang saya tulis ini, saya sangat yakin bahwa saya dapat melunasi 50 halaman yang diminta oleh pak prof, bahkan saya bisa menghasilkan lebih dari 50 halaman. Semoga saja 50 halaman yang akan saya selesaikan pada semester 2 ini merupakan pijakan awal dimana saya akan menjadi penulis hebat yang menghasilkan karya-karyanya yang sangat bermanfaat bagi semua orang yang ada di muka bumi ini.
Hari senin minggu kemarin, setelah pulang dari rumah sakit Bhayangkara yang terletak diseberang kampus kami, setelah menjenguk teman kami, Ahmad Munir dari Balikpapan Kalimantan Timur yang sedang mengalami sakit maag, karena dia telat makan sehingga ketika matta kuliah hadist BKI dia pingsan dan belum sarapan dari pagi. Saya ikut kumpul CSSMORA di depan Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya, katanya untuk sore itu adalah kumpul untuk pengumuman pemenang atau 5 karya terbaik penulis pada Diklat Makalah yang diadakan oleh CSSMORA dengan peserta angkatan kami, yaitu angkatan 2014 pada bulan November lalu. Benar-benar hal yang sulit dipercaya, atau mungkin aku sedang mimpi, tapi kalo mimpi kayanya enggak deh. Ini asli, bukan rekayasa bahwasanya aku termasuk kedalam 5 karya tulisan yang terbaik yang aku buat dahulu, dan aku menempati posisi kedua setelah Moh. Mizan Asrori, teman seangkatanku yang berasal dari Madura. 3 temanku yang lainnya yang mendapatkan titel karya tulisan terbaik adalah : Norma Majid, yang berasal dari Bone Sulawesi Selatan, Nursabila, yang berasal dari Sambas Kalimantan Barat, yang agak imut-imut itu loh, dan Lia Luthfiana Febria, yang berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Setiap dari peserta dengan karya terbaik mendapatkan hadiah berupa piagam penghargaan dan sebuah buku tentang karya tulis Ilmiah, yang mana setiap dari kita mendapatkan buku dengan judul yang berbeda. Sedangkan saya mendapat buku dengan judul “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal, Skripsi, Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah” karya H. Bahdin Nur Tanjung, S.E, M.M. (Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dan Drs. H. Ardial, M.Si. Baru kali ini saya mendapatkan hal yang sangat berharga dalam hidup saya, dan saya tidak akan melupakan hal tersebut.
Berikut ini adalah karya tulis yang terpilih menjadi   5 karya terbaik yang telah aku ceritakan tadi.
Membangun Kampus Berbasis Konsep Integrated Twin Towers
Transformasi Menuju Research College dan Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional
Oleh : Mohammad Khair Al-Fikri
            Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya kini telah berganti nama menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya. Dengan perubahan nama ini, para mahasiswa, dosen beserta para karyawan yang ada di kampus ini juga mengharapkan bahwa kampus UINSA ini menjadi perguruan tinggi yang mampu bersaing di taraf internasional.
            Sebagai mana yang telah kita ketahui, banyak diantara lulusan UINSA terdahulu menjadi orang besar pada saat ini. Di antara mereka ada yang menjadi dosen-dosen yang mengajar di Universitas-Universitas ternama yang ada di Indonesia, seperti UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Negeri Malang, UIN Sunan Gunung Djati, dan lain-lain. Dan ada pula yang telah berkeliling ke mancanegara untuk memperkenalkan karya tulisnya dan diterima sebagai karya tulis yang paling fenomenal, sebagaimana yang telah dilakukan oleh guru besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA, yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M,Ag dengan karyanya “60 menit Terapi Shalat Bahagia”. Hal ini membuktikan bahwasahnya lulusan UINSA telah tersebar di berbagai universitas lainnya bahkan dikenal hingga mancanegara. Dan merekapun mampu menjadikan kampus tempat dimana mereka mengajar menjadi berkualitas. Jika kita memperhatikan dari realita yang ada, bukanlah menjadi hal yang mustahil bahwa UINSA mampu bersaing di antara kampus-kampus berkualitas lainnya. Tetapi, ironisnya banyak para mahasiswa pada periode-periode terkini yang menjadikan kampus UINSA ini menjadi kampus pilihan cadangan jika mereka tidak lolos menjadi mahasiswa kampus favoritnya.  Mungkin mereka melihat dari sisi fasilitas yang ada di kampus UINSA ini yang kurang memadai, atau mungkin karena insiden yang terjadi di gedung rektorat pada tahun 2013 lalu.
            Setelah berganti nama menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya, bertambahlah fakultas-fakultas yang ada didalamnya. Yang sebelumnya hanya terdapat 5 fakultas, sekarang bertambah 4 fakultas yang di tempatkan di sebelah utara kampus, yaitu Fakultas Psikologi dan Kesehatan, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
            Dalam masalah peningkatan kualitas pembelajaran, kampus UINSA ini memiliki konsep dengan berbasis Integrated Twin Towers, model pembelajaran dengan konsep Integrated Twin Towers ini seperti yang dikemukakan oleh Akh. Muzakki, Ketua Tim Konversi UINSA, dalam blog UINSA Surabaya yaitu semangat integrasi keilmuan yang diwujudkan dengan mengembangkan desain akademik ilmu-ilmu keislaman, sosial humaniora, serta sains dan teknologi yang berbasis pada karakter pada karakter dan kultur-kultur keislaman yang berakar pada kekhasan nasional indonesia.
            Lagu Hymne UINSA sebagai lagu yang menandai era baru pengembangan keilmuan yang menjadi konteks dari pengembangan kelembagaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi UIN. Muatan integrasi keilmuan yang diusung dalam lagu Hymne UINSA merupakan nilai yang juga diamanatkan oleh, dan menjadi pertimbangan lahirnya. Pesan partikularnya, perubahan kelembagaan IAIN menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya di antaranya dilatarbelakangi oleh kepentingan integrasi keilmuan. Untuk kepentingan spesifik pengembangan integrasi keilmuan itu, kelembagaan IAIN Sunan Ampel Surabaya di kembangkan menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya. Sebagai konsekuensi akademik dari perubahan kelembagaan yang dimaksud, berbagai disiplin keilmuan memungkinkan untuk dibuka dan diselenggarakan didalamnya. Disiplin keilmuan selain ilmu-ilmu keislaman dilegalisasi untuk diselenggarakan bersama ilmu-ilmu keislaman itu sendiri. Oleh karena itu, dalam perspektif struktur organisasi dan tata kelola, sejumlah program studi dan fakultas baru yang berbasis keilmuan selain ilmu-ilmu keislaman dibuka. Prodi-prodi dan fakultas-fakultas tersebut mendampingi prodi-prodi dan fakultas-fakultas berbasis ilmu keislaman yang ada.
            Dalam transformasi dari IAIN menjadi UIN, kampus UINSA ini memiliki misi transformasi menuju research college, sebagaimana yang terdapat dalam misi UINSA nomor 2 yang berbunyi : “Mengembangkan riset-riset ilmu-ilmu keislaman multidisipliner serta sains dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.” Dalam prosesnya menuju kampus dengan status perguruan tinggi bertaraf internasional, UINSA melakukan pengembangan terhadap riset-riset keilmuan-keilmuan yang ada di dalam kampus. Karena kampus ini telah berubah nama dari IAIN menjadi UIN, maka riset keilmuan yang dikembangkan tidak hanya disiplin ilmu-ilmu keislaman, melainkan ilmu-ilmu keislaman dengan disiplin-disiplin ilmu baru lainnya yang di kembangkan setelah perubahannya menjadi UIN Sunan Ampel, dengan tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman dalam pengembangan riset terhadap disiplin-disiplin ilmu baru tersebut. Dan pengembangan ilmu sains dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat terkini.
            Ketika menjalankan misinya, kampus UINSA memiliki tujuan jangka panjang yang terdapat dalam visi UINSA yang berbunyi : “Menjadi Universitas islam yang unggul dan kompetitif bertaraf internasional.” Inilah yang menjadi tujuan jangka panjang kampus UINSA, yaitu sebagai universitas islam yang unggul di antara universitas-universitas lainnya. Dalam prosesnya menuju hal yang dimaksudkan dalam visi, kampus UINSA memiliki beberapa misi agar tercapainya tujuan jangka panjang tersebut, diantaranya yaitu melakukan banyak pengembangan-pengembangan dalam riset-riset keilmuan islam dan disiplin ilmu lainnya dan berusaha bersaing dengan kampus-kampus lainnya. sehingga kampus UINSA mampu berkompetitif dalam kancah nasional maupun internasional.
            Kesimpulannya, kampus UINSA memiliki rencana-rencana yang sangat brilliant untuk mewujudkan kampus yang mampu berkompetitif dalam kancah nasional maupun internasional. Dan hal tersebut tidak hanya dalam perencanaan saja, tetapi harus direalisasikan dengan tindakan-tindakan yang terprogram, agar pada jangka waktu yang panjang nanti, impian tersebut dapat terwujud, yaitu menjadi universitas islam yang ungggul dan kompetitif bertaraf internasional.
            Disamping itu, ada juga karya tulisku yang mana aku sangat bangga membuatnya, karena karya tulis ini berbahasa Inggris. Pertama-tama saya membuat bahasa indonesianya terlebih dahulu, kemudian saya menerjemahkannya sendiri  kedalam bahasa inggris. Saya membuat karya tulis ini ketika di Pare, ketika saya menjalankan program pengembangan di tempat kursus bahasa Ingggris Genta English Course. Kalau teman saya menerjemahkan karya tulis mereka dengan menggunakan bantuan Google penterjemah, sedangkan saya tidak menggunakan aplikasi tersebut. karena saya yakin dengan kemampuan berbahasa inggris saya yang telah saya pelajari selama saya di pondok terlebih dahulu. Oleh karena itu saya sangat bengga membuatnya, walaupun artikel saya tidak terpilih sebagai artikel yang terbaik saat itu. Berikut ini adalah karya tulis saya yang berbahasa Inggris.
The Purpose of Marriage
By : M. Khoir Al-Fikry
            Islam is fitrah religion. It’s mean Islam is one religion which suitable with human fitrah. In Islam, of course we know about fitrah as life creatures, those are the life potentials like the life neccessity and some instincts which can’t be lost. Those instincts are : first, purifying something instinct (Gharizah Tadayyun), second, perpetuating gender instinct  (Gharizah Nau’), third, defending self instinct (Gharizah Baqa’).
            We as human was given the magnificence by Allah SWT with intelligence that we have. So, properly we can distribute human fitrah and it’s instincts with true method. Islam has many true doctrines about the method how to distribute that fitrah, especially for perpetuating gender instinct. One method to fulfill this second human neccessity is with the marriage way.
            In view of Islam, the marriage has clear noble purposes, it is not nothing other than personality affair. And among these marriage purposes are :
1.      To fulfill the basic demand human instinct
Human was provided with natural desire to get in touch with  opponent gender. And it is the basic human instinct. Then, legally method to fulfill this neccessity is with marriage contract. And it is not with bad method, as like as the people do in this modern era. It is like be engaged with their opposite gender, living together out of matrimony, performing prostitution, engaging in illicit sex, and etc which deviated and forbided in Islam.
In fact, the human was created by Allah SWT in pairs between boy and girl, man and woman since Prophet Adam and Siti Hawa period. Beside that, the human has desire to complete, to share and to fulfill each other towards their life couple. The solitude is one problem that lost balance in our life. Everyone want to share in their life, getting an affection, and distributing their affections to their life couple. And the cleverest method to distribute that affection is with legally marriage according to syariah of Islam. With marriage, we would be avoided from engaging in illicit sex which is deviated by god Allah SWT. So, marry some girl as possible as you can, but if you can’t, marrying one wife is enough.

2.      To fortify the glorious attitude and conquering view
The main objective which was declared marriage in Islam is to fortify human from despicable and dirty deed, as the phenomenon that has done in circle of our society now which can lower and broken the glorious human grade like an abortion in circle of senior high school students and university student, a pregnancy out of marriage, and etc. Islam views marriage and establishment family as one of effective means to keep the teenagers from the broken and protect the society from the confusion. Rasulullah SAW has ordered to his members who is able to marry in order to accelerate marriage implementation. And he has explained that is more conquering view and fortifying genitals. And for the people who can’t be able to implement it, he ordered to them to observe the fasting. Cause, it can fortify themselves from dirty deed.

3.      To build Islamic household
The glorious purpose from marriage is in order husband and wife doing the syariat of Islam in their household. The law was maintained household in according to syariat of Islam is duty. Because, every muslim and muslimah who want build Islamic household, the Islam doctrine has given some criteria about the ideal couple candidate. Both are, must be kafa’ah and sholihah.
The household which was builded on the legally marriage foundation is hoped will become the harmonious happiness peace Islamic family. That family become the first foundation to be formed the harmonious happiness peace Islamic society. Because, the family like the smallest organization of society. That society, will become the society will make our leader Rasulullah SAW proud.
Islam also views that is forming family as one way to realize the big purposes that covered various civilization aspect according to Islamic religion that will have basic and big influence for muslim people and existention of muslim civilization.

4.      To increase worship to Allah SWT
According to Islam’s concept, our life is fully for worship and serve to Allah SWT, along with doing the good deeds to other human. From this view, the household is one of fertile soil for doing worship, and good deed beside other good deed and worship. Although Rasulullah SAW has explained that to be in contact between husband and wife or release orgasm to our wife was included worship.
Marriage is the whole part from worship, although it called as the part of religion. Marriage is not only as self promoting for fairness in civilization life, although it become means to fulfill someone religious in order his worship more strong than before.

5.      To obtain pious descent
The glorious purpose from marriage is to get descent. All people has preference and happiness feeling to children. Although Rasulullah has suggested in order to marrying full affection woman along with can bear many descent. With having descent, it will give a way for continuation human generation on the earth. Human will be saved and never extinct.
Of course, the pious descent can’t be obtained rather with the real Islamic education. We call it, because many of “Islamic Education Institute”, but their method and contents is not Islamic. Until we can see many of muslim children who haven’t Islamic moral, caused the wrong education. So, husband and wife have responsibility to educate, teach, and direct their children to the right way.
The child is hereafter investment. And he is not nothing other than the world happiness. With having the pious children, they will give the opportunity to their parents to get the paradise in hereafter.
Saya juga sudah sering membuat artikel dengan berbahasa inggris. Karena itu merupakan sesuatu yang sangat berguna bagi saya. Dan dengan membuat arikel berbahasa inggris, maka itu melatih kemampuan saya dalam terampil berbahasa inggris. Berikut adalah beberapa artikel yang pernah saya buat dengan berbahasa inggris pada semester 1.

3 Ways to Treat an Air Conditioner in Avoiding Disease

When you use a home air conditioner, do not forget to take care of on a regular basis. Because when AC is not treated regularly and carefully, it will have a bad air and becomes a place to spread the disease. The dirty AC can store a variety of viruses and bacteria that continuously spread throughout the room. It also enters into the smell of the inhabitants. As a result, the occupant will experience pain or repeated infections. The following treatments below should you do in order to make AC work optimally and be durable.

Do not forget to turn off the AC
When traveling or in a space that is not used, do not forget to turn off AC. If the air is not too hot, try to shut down about one or two hours a day. If necessary use a reminder or timer contained in the AC facility. When the air conditioner is turned off, open the windows and doors widely so that there is an air exchange.
Clean the AC regularly
Check the filter components on the air conditioning, at least once a month. A dirty air filter will hinder the air circulation and being a comfortable place for germs, bacteria, and fungi. Bacteria are what will flow to the evaporator coil (evaporator coil) and then spread back across the room. The dirty AC components can affect the performance of the cooling system becomes more severe, so it does not produce the maximum cold and wasteful.
Selective in use
Minimize the potential health problems with the use of air conditioning as selective as possible. Because, if in the same room there is a family member which is sick, viruses and bacteria can be spread through the air helped. So when a family member is sick with the flu, for example, try using the AC to a minimum. This advice also applies if there is one family member who smoked in the room or when the middle of the room and furniture cleaned.

 

How to Solve Eating Difficulty in Children?

Eating difficulty is an issue that is so fundamental and often case to children. Sometimes, when a child is so difficult to chew food invited to make us frustrated. Since then, usually we will try a variety of ways like providing herbal appetite enhancers and hunting child’s favorite foods every day. The matters the child eating disorder also intrigued our interest to make an article about tips to overcome the difficult child to eat. Here are the details.
Serve meals with small portions
Maybe the kid does not like the size of your portions that so reluctant to eat the food there. Many children are ilfeel after seeing a sizable portion. So, try to give a little so that they can eat faster and do not get bored in spend food.
Get together with family
Do not let children eat alone and we need to create an atmosphere of togetherness when the child was time to eat. For example, you and your husband are on the table then eat foods together. With the atmosphere of togetherness, then the child’s appetite will occur slowly.
Provide healthy snacks
One of the things that concern by parents is the development of the child if he did not want to eat. Of course, when children are fussy eaters then its growth will be stunted and not as friends. One of the best ways to keep it is to try to give nutritional healthy snack. Give interesting snacks such as nuts, dried fruits, and nutritious bread.

Variety of food and a nice appearance
Perhaps, he needs a variety of foods that your appetite he has incurred. For example, you could give spinach on the first day, broccoli on the second day, and chicken-based dishes in the next day. Variety of foods is a very important thing to prevent children from boredom and the desire not to eat.
However, there is one more thing that could trigger a child’s appetite, which is an interesting food dish. For example, you can cook carrots to form a star or a unique object. Children will be attracted by the shape and believed to increase appetite. Hopefully, some difficulty eating kids tips above can help you.

Selain itu juga, saya memiliki karya tulis pertama yang berupa opini. Ini adalah karya tulis yang pertama saya buat ketika saya mendapat tugas untuk membuat buletin dari kakak kelas CSSMORA. Ketika itu saya sekelompok dengan Moh. Mizan Asrori. Saya mendapatkan semangat untuk menulis selain dari pak prof, dia juga turut menyemangati saya agar saya dapat terus menciptakan karya-karya yang lebih bagus lagi. Berikut ini adalah karya pertama saya.
Peran Public Speaking dalam Pendidikan Pesantren
Oleh : Mohammad Khair Al-Fikry

            Pesantren merupakan salah satu pendidikan Islam yang menerapkan sistem berasrama dalam menjalankan proses pendidikan dan pengajarannya. Di dalam pesantren, para santrinya tidak hanya dituntut pintar dalam segi keilmuannya saja, tetapi mereka juga harus pandai dalam segi akhlak, oleh karena itu, berasrama merupakan sistem pendidikan di pesantren yang sangat efektif dalam mendidik akhlak.  Selain berasrama, di dalam pesantren pula selalu diadakan kegiatan-kegiatan yang melatih para santrinya untuk lebih mandiri dalam kehidupan, tidak hanya kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam berorganisasi.
Di dalam pesantren, ada sebuah kegiatan yang mana kegiatan ini memiliki pengaruh yang besar. Di antara kegiatan itu adalah public speaking, kegiatan ini dimaksudkan untuk melatih para santri agar mereka mampu berbicara di hadapan umum. Dan ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting. Karena tidak semua orang mampu untuk berbicara di muka umum dengan lancar.
Banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari public speaking ini, tetapi sedikit sekali  respon baik dari para santri zaman sekarang. Seperti yang penulis alami ketika di pondok, ketika tiba kegiatan rutin mingguan public speaking, banyak di antara para santri yang tidak mengikuti kegiatan ini dengan berbagai alasan. Jika terjadi seperti ini terus, maka kita akan sulit menemukan para orator-orator muslim yang terjun dalam dunia dakwah Islam. Karena pondok pesantren merupakan komponen penting dalam proses tersebarnya ajaran Islam yang baik dan benar. Hal inilah yang jarang kita temukan di sekolah-sekolah umum yang hanya mementingkan segi keilmuan saja.
Peranan public speaking dalam pendidikan santri tidak hanya untuk melatih agar ia bisa berbicara di depan umum saja, tetapi dilatih juga tentang percaya diri. Pada akhir-akhir ini banyak para remaja yang mengatakan bahwa ia kehilangan kepercayaan dirinya. Pada hakikatnya, kepercayaan diri mereka terpendam oleh rasa malu yang tinggi di dalam diri mereka dan kepercayaan diri tersebut tidak pernah mereka asah sehingga mengira bahwa kepercayaan diri mereka telah hilang. Salah satu sarana untuk melatih kepercayaan diri diantaranya yaitu kegiatan public speaking ini.
Nah, sekarang kita harus memperbaiki asumsi yang jelek tentang kegiatan ini, agar pondok pesantren bisa menghasilkan para-para pendakwah yang efektif dalam kegiatan dakwah Islam.
Karya tulis yang selanjutnya ini adalah karya tulis berupa resensi buku, ini adalah karya tulis berupa resensi buku yang pertama kali saya buat. Buku pertama yang saya resensi yaitu buku fenomenal karya Prof. Dr. Mohammad Ali Aziz, M.Ag yang telah tersebar di seantero bumi internasional. Buku tersebut adalah “60 Menit Terapi Sholat Bahagia” karya tulis ini baru dibuat beberapa bulan yang lalu, ketika awal permulaan saya menjalani kehidupan di semester 2 ini. Nantinya, karya tulis ini yang saya buat ini akan dimasukkan kedalam majalah produk CSSMORA UIN Sunan Ampel Surabaya yaitu “Naturalist” katanya, majalah ini akan terbit pada awal bulan mei ini. Berikut ini adalah resensi buku yang saya buat untuk majalah Naturalist edisi terbaru yang akan terbit ini.
Kebahagiaan Dalam Shalat

Judul buku                  : 60 Menit Terapi Shalat Bahagia
Nama pengarang         : Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Nama penerbit             : IAIN Sunan Ampel Press, Anggota IKAPI
Tahun terbit                 : Juni 2012
Jumlah halaman           : 229 halaman
Harga buku                 : Rp. 60.000,-
Peresensi                     : M. Khair Al-fikri


            60 Menit Terapi Shalat Bahagia, buku karya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag ini menjelaskan bahwa orang yang menjalankan sholat dengan khusyuk akan mendapat jaminan kebahagiaan selama hidupnya. Karena, peshalat khusyuk menghadapi semua permasalahan kehidupan dengan keimanan, kepasrahan, dan penuh keriangan (ridla) atas semua takdir Allah SWT. Agar kita bisa melaksanakan sholat dengan khusyuk, kita harus benar-benar menghayati setiap gerakan sholat. Untuk menghayati setiap gerakan sholat, mutlak diperlukan pemahaman makna doa-doa di dalamnya. Allah SWT berfirman ”.... Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”
            Sang penulis mendapatkan inspirasi untuk menulis buku ini setelah beberapa tahun beliau pulang dari Afrika. Beliau terkena penyakit punggung dan lutut yang menyebabkan beliau nyaris tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna. Dan setelah itu beliau harus rukuk dan sujud dengan perlahan, lebih lama dan tenang, tidak tergesa-gesa dan berusaha memahami makna doa didalamnya. Itulah hikmah terbesar dibalik cobaan yang menimpanya. Sekalipun terasa sakit, tapi dengan sikap pasrah kepada Allah SWT, beliau dapat menikmati penyakit tersebut dan merasakan bahagia. Ternyata semua kejadian yang tidak disukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari.
            Buku ini disusun dengan sangat sistematis, terdiri dari 10 bab, dengan penjelasan yang lugas dan bahasa yang sederhana, tentang penjelasan cara-cara sholat yang baik dan benar beserta renungan-renungannya menurut para ulama terdahulu yang menjadi sebab kebahagiaan dalam hidup, dan berbagai hal yang memiliki hubungan erat dengan sholat seperti mendapatkan kekhusyukan dalam sholat, tata cara berdoa, mendapatkan rahmat dan ampunan Allah, cara mengekspresikan rasa syukur, kesabaran, ikhlas, tawakal, ridla dan lain sebagainya. Hebatnya, tulisan ini berhasil menguak keluarbiasaan ibadah sholat yang memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan umat muslim, baik itu dalam perspektif ilmu kedokteran, teologi, psikologi, dan sosial. Begitu pula dengan bacaan sholat dalam buku ini, tidak ada satupun yang ditulis dengan bahasa Arab seperti buku-buku yang lain, melainkan ditulis dengan bahasa Latin. Sehingga, buku ini sangat mempermudah mereka yang mengalami kesulitan dalam membaca tulisan-tulisan Arab. Oleh karena itu, buku ini sangat dianjurkan bagi mereka yang belum mengerti bahasa arab, agar mereka lebih bisa memahami makna-makna doa dalam bacaan sholat yang selalu mereka baca setiap waktu. Buku ini juga dilengkapi dengan petunjuk penggunaan buku, agar tujuan yang dimaksudkan penulis untuk para pembaca dapat tercapai.
            Setelah kita memahami makna yang terdapat dalam bacaan sholat, maka kita harus menghayati makna dan gerakan sholat tersebut dengan selalu menghadirkan hati kita setiap kali kita melaksanakan sholat. Karena dengan penghayatan tersebut dapat menguatkan keimanan dan rasa tawakal kita kepada Allah SWT. Penghayatan dalam sholat tidak akan kita dapatkan jika kita melaksanakan sholat dengan tergesa-gesa. Maka, mau tidak mau tuma’ninah harus kita terapkan dalam sholat. Sholat sebagai ekspresi rasa syukur juga membentuk pribadi yang qana’ah. Peshalat yang khusyuk merasa sangat senang dengan karunia Allah yang telah ia terima, puas dengan apa yang ada, tidak mengangan-angan, apalagi menghitung-hitung apa yang belum ada ditangannya. Oleh karena itu penulis membuat singkatan tentang 3 hal yang akan kita dapatkan dalam sholat yang khusyuk dengan singkatan T2Q (Tawakal, Tuma’ninah, dan Qana’ah). Penulis juga menyajikan banyak sekali bahan renungan pada setiap gerakan sholat. Namun penulis hanya menjelaskan pokok-pokok bahan renungan tersebut dan mengemasnya dalam kalimat “SUBHAN TURUT HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL” agar mudah dihapal, diingat, dan diaplikasikan oleh pembaca dalam pelaksanaan sholat mereka.
            Buku ini telah dibaca oleh para ilmuwan, ulama, dan orang-orang terkemuka di Indonesia. Tidak heran jika dalam buku ini ada beberapa komentar tentang mereka pada bagian awal buku. Dan mayoritas komentar yang mereka berikan sangatlah mengapresiasi buku ini. Karena memang cara pemaparan materi yang unik dan tidak biasanya, dapat mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
            Karya tulis selanjutnya adalah karya tulis yang ini berbentuk artikel. saya buat ketika ada perekrutan anggota baru untuk Unit Kegiatan Khusus dalam bidang jurnalistik, karena untuk menunjang keberhasilan ataupun kemauan saya dalam menghasilkan karya tulis, maka saya harus bergaul dengan orang-orang yang suka menulis juga. Dan orang-orang yang suka menulis itu memiliki komunitas di bidang jurnalistik, maka dari itu, saya ikut bergabung ke dalam komunitas tersebut. komunitas tersebut bernama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas. Dan salah satu persyaratan agar kita bisa masuk ke LPM Solidaritas itu adalah dengan manyerahkan sebuah artikel. Dan artikel yang saya buat ini telah lolos dalam seleksi perekrutan anggota baru LPM Solidaritas. Berikut ini adalah artikel yang saya buat untuk perekrutan anggota baru LPM Solidaritas.
Fakta Unik
            Segala sesuatu itu pasti memiliki hal yang unik. Terkadang keunikan tersebutlah yang membuat sesuatu itu mudah diingat, seperti tujuh keajaiban yang ada didunia. Kita semua pasti bisa menyebutkan apa saja tujuh keajaiban dunia tersebut, disertai dengan alasan mengapa kita menyebutnya sebagai tujuh keajaiban dunia. Sebagai contoh, tembok raksasa yang ada di cina merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia karena menurut beberapa peneliti, tembok tersebut adalah salah satu benda yang bisa kita lihat dari bulan. Berikut ini saya akan membahas benda yang ada di sekitar kita yang fakta keunikannya jarang terungkap, yaitu :
1.      Mie Instant
Sudah jadi rahasia umum, cara paling praktis bagi mereka yang kurang bisa memasak, namun ingin makan murah meriah, mie instant jadi jalan termudah. Makanan berupa mie dalam kemasan itu sangat terkenal di kalangan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Tak hanya itu, para peronda malam pun kadang jika lapar, kini dengan mudah mendapatkan warung-warung mie instant yang buka 24 jam. Karena itu, mie jenis ini memang sangat populer di semua kalangan.
Tapi, tahukah anda makanan ini ternyata tercipta karena terjadinya resesi ekonomi di Jepang? Saat itu, salah satu makanan utama orang Jepang, yaitu mie, dianggap sulit didapat. Masyarakat disana oleh menteri kesehatannya kemudian dipersilahkan untuk memakan roti dan gandum. Sebab, untuk memasak mie butuh bahan olahan yang memang sulit didapat dan makin mahal harganya. Kala itu, antrian panjang orang yang ingin mendapatkan makanan memang terjadi dimana-mana. Inilah salah satu dampak buruk kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ke II.
Ketika itulah, seorang pemuda bernama Momofoku Ando ikut merasakan dampak kesulitan ini. Karena itu, ia pun memutar otak bagaimana menyediakan makanan mie yang praktis dan cepat. Sebagai seorang pengusaha, ia melihat peluang dari kesulitan itu. Maka, dengan tekad menyediakan mie sesuai kebutuhan masyarakat Jepang, Momofoku, yang aslinya berasal dari Taiwan ini, lantas mencoba membuat berbagai formula mie.
Suatu kali, ia menemukan bahwa mie yang basah bisa dikeringkan. Dan, dengan penggorengan yang cepat, mie bisa dikemas sehingga bisa tahan lama. Untuk menyajikannya, mie kering ini tinggal disiram atau direndam dengan air panas. Inovasi inilah yang merupakan cikal bakal pertama mie instant didunia.
Otak bisnisnya pun segera berjalan. Maka, Momofoku berinisiatif membuat rasa pada mie buatannya, yakni dengan menambahkan kaldu ayam. Dia pun memberi nama produknya itu “Chikin Ramen” dan mengenalkannya pada pasar tahun 1958. Tak hanya itu, demi ekspansi yang lebih luas, ia lantas membuat perusahaan dengan nama Nissin Food Products Co., Ltd. Dengan produk mienya, perusahaan itu lantas segera diterima oleh masyarakat luas. Momofoku pun terus berusaha berinovasi agar produknya makin dikenal, didunia. Salah satunya, ia menciptakan mie gelas (cup noodles) pada tahun 1971. Mie dalam wadah yang tahan air dan mudah dibawa kemana-mana membuat mie instant Momofoku jadi terkenal di seantero dunia.
Sebuah krisis, terbukti bisa melahirkan banyak peluang. Hanya orang seperti Momofoku inilah, dengan kejelian, berhasil mengubah tantangan menjadi peluang. Sungguh luar biasa!!!
2.      Pop Corn
Tahukah anda jenis makanan kecil yang paling disukai saat menonton film? Yup, makanan paling populer menemani anda saat menonton film adalah popcorn, alias berondong jagung. Tapi, tahukah anda bahwa ada banyak cerita unik dari popcorn itu? Dari namanya, popcorn ternyata awalnya berasal dari suara saat jagung-jagung itu meledak ketika dipanaskan. Pop! Pop! Pop! Pop! Itulah suara yang terdengar dan kemudian menamainya popcorn. Namun, sebenarnya itu hanyalah nama populernya saja. Sebab, aslinya, popcorn ternyata sudah berusia ribuan tahun. Beberapa penelitian menunjukan bahwa banyak lukisan di gua-gua bawah tanah terdapat coretan yang menggambarkan jagung ini. Namun, data yang cukup dipercaya mengatakan bahwa popcorn berasal dari 5 ribu tahun silam dimana awalnya datang dari Meksiko dan kemudian menyebar ke India, China, dan Sumatera. Jagung ini kemudian menyebar ke Eropa seiring dengan banyanknya penjelajah dari daratan Eropa ke berbagai benua.
Selain bisa dimakan, jaman dahulu, popcorn ternyata juga sering dijadikan permainan. Meski tidak disebutkan secara pasti lokasinya, ada sebuah suku yang mendiami suatu daerah sering bermain jagung ini. Caranya, jagung tersebut diletakkan pada suatu wadah yang terbuat dari batu panas. Seiring dengan perubahan suhu, jagung itu akan meledak dan terbang kemana-mana. Nah, inti dari permainan ini  adalah pemain harus menangkap jagung-jagung yang berterbangan. Sang pemenang diperbolehkan memakan jagung tersebut. Orang jaman dahulu ternyata cukup kreatif dalam mencari cara menghibur diri ya?
Ada satu lagi kisah tentang popcorn yang mampu menyelamatkan seseorang dari kebangkrutan. Ketika terjadi resesi ekonomi di Amerika, banyak bisnis yang hancur. Namun, ternyata penjualan popcorn tidak mengalami penurunan. Nah, suatu ketika ada seoarng bankir dari Oklahoma yang bangkrut. Dari sisa-sisa uangnya ia pun memutuskan untuk membeli mesin pembuat popcorn untuk menyambung hidupnya. Bankir itu kemudian membuka usaha kecilnya di sebuah warung kecil di dekat sebuah bioskop. Dan seperti kita tahu, nonton bioskop memang paling asyik sambil mengunyah popcorn. Karena itu, sang bankir pelan tapi pasti berhasil mengembangkan usaha popcornnya. Setelah sekian tahun ia ternyata tak hanya bisa hidup dari menjual popcorn. Ia bahkan kemudian bisa sukses dengan bisnis itu dan berhasil mendapatkan kembali lahan pertanian miliknya yang sempat dijual kala bangkrut dulu. Bankir itu telah “diselamatkan” oleh berondong jagung ini.
Popcorn memang sangat populer. Dan, ternyata popcorn menyimpan banyak kisah, yang unik sekaligus inspiratif. Memang, kadang, barang yang kita anggap remeh, ternyata bisa memberi arti bagi banyak orang.

By : Mohammad Khair Alfikri  
Inilah karya-karya yang telah saya buat selama saya kuliah di Surabaya ini. Hanya butuh waktu 2 semester saja, saya bisa menghasilkan karya tulis yang sedemikian banyaknya. Mungkin saja, setelah 4 tahun saya kuliah di Surabaya ini, saya dapat menghasilkan banyak karya yang sangat banyak dan berharga bagi semua orang yang ada di dunia ini.
Setelah beliau selesai menelepon, ustadz Ainul Yaqin berkata bahwasanya dia mendapatkan amanat dari pak prof untuk memberitahu kami bahwasanya untuk minggu depan, pak prof akan melaksanakan ujian tengah semester (UTS). Sudah hal yang biasa bagi kami mendapatkan UTS setelah beberapa hari masuk kuliah. Karena hal yang serupa juga terjadi pada kita semua ketika semester pertama lalu yang mana kita melaksanakan UTS setelah beberapa hari yang lalu. Beliau juga mengatakan bahwa sistem ujiannya tidak jauh berbeda dengan semester pertama yang mana kita hanya perlu menebak salah satu dari dua jawaban yang telah disediakan, dan pertanyaannya pun sangat menjebak sekali. Namun, pada kali ini beliau menyuruh ustadz Ainul Yaqin untuk membuatkan soal untuk ujian yang akan diadakan minggu depan. Untuk ujian tengah semester kami yang pertama, soal ujiannya diambil dari materi Tafsir Al-Munir dari kelompok pertama, dimulai dari bab pertama tentang dasar-dasar dakwah, subbab pertama dengan judul kewajiban dakwah, subbab kedua dengan judul metode dakwah, subbab ketiga dengan judul mitra dakwah hingga bab kedua dengan judul potensi positif manusia. Subbab pertama dengan judul memiliki potensi kebaikan. Jadi kseimpulannya untuk UTS pertama yaitu kita harus membaca 4 subbab dari Tafsir Al-Munir yang berbahasa Arab tersebut.
Tetapi salah satu diantara kami ada yang bertanya, “pak ustadz, ujian buat minggu depan soalnya berbahasa Arab atau Indonesia? Karena kalau berbahasa Arab kami mungkin akan kurang sanggup untuk menjawabnya.” Mendengar pertanyaan itu pun saya merasa sangat kasihan sekali. Saya harus membuat mereka paham akan makalah Tafsir Al-Munir yang telah kami susun pada beberapa minggu yang lalu. Ustadz Ainul Yaqin pun menjawab, “mungkin akan kami pikirkan kembali bagaimana bentuk soalnya, apakah itu berbahasa Arab ataupun berbahasa Indonesia, akan saya pertimbangkan kembali.”
Setelah mendengar pernyataan tersebut dari Ustadz Ainul Yaqin, saya pun mendapat inisiatif untuk membuat kajian kelas yang khusus membahas materi kelomppok kami yang akan diujikan pada minggu depan. Saya mengatakan hal tersebut  kepada kosma kita yaitu Rahmat Faisal Nasution, yang berasal dari Riau Sumatera Utara. Ternyata dia menanggapi tentang kajian khusus yang membahas tentang materi kelompok kaim yang akan diujikan besok. Dia mengatakan kepada semuanya, agar kita semua berkumpul pada sore hari untuk melaksanakan kajian tersebut.
Sore hari pun tiba, sebagaimana yang telah kami rencanakan sebelumnya, bahwa kami akan berkumpul pada sore hari setelah sholat Ashar untuk mengadakan kajian khusus, sekitar pukul 15.30. tapi, mungkin sudah jadi kebiasaan bururk orang Indonesia yang tak patut dicontoh. Kita janji untuk hadir di tempat pada jam sekian, tapi realisasinya molor sekitar setengah jam. Sehingga hal yang akan kami jelaskan kepada mereka menjadi tidak efisien dan tidak secara terperinci. Maka dari itu kami hanya bisa menjelaskan sebagian dikarenakan waktu yang tidak memadai. Tapi, hal itu bukan menjadi suatu masallah bagi kami, karena kami juga masih memiliki motto, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Diskusi pun dimulai pada pukul 16.00 sore. Kosma kita Rahmat Faisal Nasution pun memulai diskusi pada sore itu. Diskusi berlangsung dengan sangat kondusif, setiap dari kami pun banyak yang bertanya ataupun turut memberikan pendapat mereka tentang hadist yang sedang kita diskusikan. Hingga waktu pun tak terasa berlalu begitu cepat. Diskusi pun akhirnya diakhiri, walaupun materi yang belum kita bahas masih banyak, namun tak apa. Mungkin dilain waktu kita bisa melakukan diskusi tersebut.
Keesokan harinya, salah satu teman kami mendapat sms dari Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Beliau mengatakan bahwa salah seorang dari setiap kelompok diharapkan untuk menghadap kepada pak prof ketika pagi hari sebelum kita masuk mata kuliah Ushul Fiqih. Akhirnya kami memberitahu teman-teman kami yang lain, dan setiap kelompok pun sudah ada utusannya masing-masing. Setiap kelompok 2 orang, untuk kelompok tafsir Al-Munir, utusannya yaitu saya dengan Jajang, karena kebetulan saya adalah ketua kelompok dalam mata kuliah ini, untuk kelompok tafsir Ibnu Katsir yaitu, M. Mizan Asrori, yang berasal dari Madura dan Ahmad Rifa’i Sinaga yang berasal dari Medan Sumatera Utara, dan untuk kelompok tafsir Al-Azhar yaitu, Nanang Sufratna yang berasal dari Medan, dan Ahmad Munir yang berasal dari Balikpapan.
Ternyata utusan-utusan kelompok itu dipanggil karena beliau telah selesai mengoreksi tugas-tugas kami semua. Beliau mengatakan bahwasanya masih banyak sekali hal-hal yang harus kami perbaiki dari tugas-tugas kami. Tapi tak apa-apa karena kami masih punya 11 kali lagi pengoreksian. Sedangkan, ini adalah yang pertama kalinya. pertama beliau memberitahu koreksian-koreksian dari tafsir al-Azhar, banyak sekali koreksian-koreksian yang mereka terima, mulai dari kesalahan dalam penulisan, kata-kata, huruf-huruf, dan tanda baca, banyak sekali koreksian yang mereka peroleh hingga setiap lembar dari tugas yang mereka buat pasti terdapat goresan tinta merah. Begitu pula dengan kelompok tafsir Ibnu Katsir. Bahkan, kelompok tafsir Ibnu Katsir mendapatkan goresan tinta merah yang lebih banyak daripada kelompok Tafsir Al-Azhar.
Setelah itu gilirannya tafsir Al-Munir. Tapi ternyata, tugas kelompok tafsir Al-Munir dibawa oleh ustadz Ainul Yaqin. Dan beliau mengatakan bahwa beliau yang mengoreksi. Lagipula beliau juga sedang menyusun soal-soal untuk ujian pada hari senin depan, jadi beliau menyuruh kami untuk menghadap ke ustadz Ainul Yaqin. Fiuhhh.... ternyata bukan pak prof yang mengoreksi, kalau seandainya pak prof yang mengoreksi sepertinya aku bakalan stress.
Setelah itu, kami pun langsung bergegas ke kelas kami, karena sudah sangat telat. Tapi sebelum itu, saya memberitahu jajang terlebih dahulu untuk menghubungi ustadz Ainul Yaqin, agar kita bisa tahu kapan kita bisa menghadap beliau untuk koreksian-koreksian tersebut.
Akhirnya, tibalah hari senin, hari pertama UTS. Untungnya semalam kemarin saya sudah membaca seluruh materinya. Dan saya pun yakin bisa mendapatkan nilai yang sangat bagus untuk permulaan UTS ini.
Tidak lama setelah kami memasuki ruang kelas, pak prof  beserta ustadz Ainul Yaqin pun masuk kedalam kelas. Pak prof memakai baju garis-garis berwarna hitam putih dan memakai celana hitam, beliau selalu memakai pakaian yang membuat bbeliau terihat sangat berwibawa. Begitu pula ustadz Ainul Yaqin, beliau memakai Blazer dengan warna coklat keabu-abuan. Dan sepatu pantopel yang sangat bagus, dan saya sempat ingin sekali memiliki sepatu yang seperti itu, karena sepatu tersebut pernah saya lihat di pasar wonokromo.
Pak prof belum memulai UTS, karena masih ada beberapa dari kami yang belum datang. Mungkin mereka telat karena mereka tidak mengikuti kelas Intensif bahasa Arab, sebab mereka tidak membaca materi yang akan diujikan untuk besok pada malam harinya. Jadi mereka mengorbankan kelas intensif bahasa Arab ini. Di selang kita menunggu semuanya datang ke kelas, beliau menanyakan perihal masalah tulisan kami, beliau menanyakan hal tersebut kepada kami satu persatu. Untung saja ketika itu, saya sudah mengerjakan 3 lembar tulisannnya, jadi saya punya jawaban bahwa saya sedang proses untuk mengerjakan tulisan 50 halaman tersebut. 
Sungguh, sangat disayangkan, banyak dari mereka, teman-teman saya ketika ditanyakan perihal masalah tulisan 50 halaman tersebut, banyak yang menjawab bahwa mereka belum mengerjakan hal tersebut sedikitpun atau satu lembarpun. Beliau mungkin agak kecewa setelah mendengar jawaban dari teman-teman saya yang belum mengerjakan tulisan 50 halaman tersebut. Beliau pun bertanya tentang kendala-kendala ataupun kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi saat sebeum memulai menulis. Banyak dari kami yang menjawab bahwa kami sulit untuk memulai, tidak tahu apa yang mesti ditulis, suka tertidur saat menulis, sehingga tulisan mereka hanya sedikit sekali. Setelah mendengar alasan-alasan tersebut, beliau berusaha memotivasi kami lagi, agar kami lebih semangat menulis. Banyak sekali kata-kata beliau yang selalu menyemangati kita, seperti
1.      Katakan “Hari ini saya tidak seperti kemarin, saya jauh lebih baik.”
2.      Hidup ini seperti menaiki sepeda, jika kita ingin terus berdiri, maka kita harus tetap bergerak, jangan sampai berhenti.
3.      Jika ukuran kebaikan adalah pemberian materi, maka orang miskin tak berhak menjadi orang baik.
4.      Jika anda tak beragama dengan ceria, maka apa pandangan orang terhadap Islam.
5.      Wahai dirimu, kamu bukan dihina, tapi kamu sudah terhina sebelum dihina.
6.      Menyepi di malam sunyi, mengantarmu kepada rangkulan ilahi.
7.      Melati tidak pernah berbicara tapi dia selalu mengharumkan namanya.
8.      Kamu itu pintar, tetapi kamu tidak pernah mengekspresikan kepintaran mu, lalu untuk apa kepintaranmu.
9.      Orang yang sukses memindahkan gunung adalah orang yang memindahkan batu-batu kecil terlebih dahulu.
Setelah semua hadir ke kelas, barulah ujian dimulai. Untuk kali ini ustadz Ainul Yaqin yang membacakan soal. Soal nya ada 40 soal, setiap soal ada yang berupa pilihan benar salah, ataupun yang berupa hapalan-hapalan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah di pelajari. Jika soalnya 40, maka setiap soal memiliki point 2,5. Setelah beberapa lama kemudian, ujian pun selesai, mulailah waktunya penngoreksian.
Untuk ujian yang pertama kali ini, tidaklah terlalu buruk. Mayoritas kelas ini mendapatkan nilai yang sangat tinggi untuk UTS kali ini. Bahkan ada juga yang mendapatkan nilai 100, dia adalah Lia Luthfiana Febria yang berasal dari Bojonegoro. Mayoritas dari mereka mendapatkan nilai di atas 70. Saya sendiri mendapatkan nilai 93. Permulaan yang bagus untuk mendapatkan yang terbaik.
Setelah menjalani ujian tengah semester yang pertama, kami semua merasa puas sekali karena kebanyakan dari kami mendapatkan nilai-nilai yang sangat bagus sekali. Namun, pak prof berkata kepada ustadz Ainul Yaqin, bahwasanya soal-soal yang telah diberikan kepada kami itu sangat mudah sekali, kurang menantang, bahkan cenderung monoton dan tidak menjebak sama sekali. Beliau menyuruh kepada ustadz Ainul yaqin agar mengubah soal-soalnya lagi agar lebih menjebak. Seperti itulah koreksian beliau untuk UTS kami yang pertama pada semester 2 ini.
Nilai ujian telah ditulis di daftar hadir, dan setelah memberi nasihat-nasihat kepada kami semua agar mendapatkan nilai yang lebih tinggi lagi, kita diperintahkan agar terus belajar lebih giat lagi. Seperti biasanya, bagi seseorang yang mendapatkan nilai tertinggi akan mendapatkan hadiah khusus dari pak prof. Untuk kali ini Lia Luthfiana Febria dipersilahkan oleh pak prof untuk berfoto bersama beliau dan ustadz Ainul Yaqin. Setelah itu, beliau mengatakan bahwa beliau masih memiliki agenda lain, yaitu pak prof akan menguji disertasi milik sarjana S3 UIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh karena itu, beliau menyerahkan proses perkuliahan di kelas kepada ustadz Ainul Yaqin.
Kali ini ustadz Ainul Yaqin menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan syirik. Stirik merupakan dosa besar yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT. Namun, ada dosa besar selain dosa syirik, yaitu ketika kita tidak mengakui bahwa dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT, atau kita berputus asa akan datangnya rahmat dan ampunan Allah SWT. Seperti ketika kita melakukan bunuh diri, dan kita berbuat seolah-olah Allah SWT tidak akan mengampuni dosa kita yang sangat banyak. Dan ini merupakan dosa terbesar dibandingkan dengan dosa syirik.
Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah dosa syirik. Namun, pada hakikatnya Allah mengampuni setiap dosa makhlukNya di muka bumi ini. Lalu, syirik yang bagaimanakah yang tidak diampuni oleh Allah SWT? Yang dimaksud dosa syirik yang tidak akan diampuni yaitu apabila kita meninggal dalam keadaan syirik. Jika kita meninggal atau mengehmabuskan nafas terakhir sedangkan kita dalam keadaan tidak beriman kepada Allah SWT, maka dosa-dosa kita tidak akan diampuni dan kita akan masuk neraka. Oleh karena itu kita tidak boleh mati dalam keadaan musyrik. Tapi harus dalam keadaan mu’min.
Pada hari jum’at yang lalu, pak Ainul yaqin mengadakan kajian bahasa Arab. Hal ini merupakan inisiatif dari para anggota kelas, agar mereka mendapatkan pelajaran tentang bahasa Arab dengan baik. Dan bisa melebihi kemampuan berbahasa Arab mahasiswa lainnya. namun, dalam kajian ini, kita tidak hanya membahas tentang bahasa Arab saja. Tetapi, ilmu-ilmu keislaman yang lain juga dibahas. Seperti Siroh Nabawiyah, atau kajian tentang Rasulullah SAW, tentang bagaimana kehidupan Rasulullah yang sebenarnya, cara beliau makan, cara beliau minum, tidur dan lain sebagainya. Begitu pula tentang keutamaan-keutamaan kita semua sebaga salah satu dari umat-umat Rasulullah SAW yang begitu banyaknya.
Dalam kajian ini juga kita membahas tentang Rasulullah dan segala hal yang berkaitan dengan beliau seperti hal-hal yang patut kita contoh dari Rasulullah SAW dari sifatnya, kewibawaannya sebagai pemimpin, dan sifat adil yang beliau terapkan kepada umatnya, beserta ilmu-ilmu islam lainnya.
Kajian ini telah diselenggarakan dari 3 minggu yang lalu. Kajian ini diadakan pada hari Sabtu pada pukul 08.00 pagi hingga pukul 10.00 siang. Kegiatan ini baru berjalan selama 3 minggu. Di karenakan kegiatan ini memiliki dampak yang positif bagi anggota kelas kita, maka pak prof pun memberikan pernyataan bahwa masuk kajian pada hari sabtu ini, yaitu kajian yang dimulai 3 minggu yang lalu, akan terhitung sebagai absen kuliah khusus untuk mata kuliah beliau, yaitu mata kuliah tafsir BKI. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita semua untuk bolos dari kegiatan mingguan ini. Bagi siapa yang tidak hadir, maka absennya berkurang 1 hari.
    
Aku, Istri Nabi  yang Tertuduh
Seperti biasa, sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi nama istri-istrinya terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah yang berhak mendampingi Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah ditetapkan dan Rasulullah sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam itu diundilah nama para istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau selama peperangan Bani Mustaliq.
Aisyah binti Abi Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajahku merona gembira mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira yang membara bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar dan berhak menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan Allah. Peperangan dengan Bani Musthaliq terjadi selepas ayat Hijab turun. Otomatis, aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Aku pun dinaikkan di atas unta yang memanggul haudah[1].
Setelah peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali menuju tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti di suatu tempat sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah salah satu dari kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya. Beliau sangat memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat letih kala itu. Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota Madinah malam itu juga, beliau memilih berhenti dan mengistirahatkan semua pasukan Islam yang telah memperoleh kemenangan.
Saat semua sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar dari tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku semakin menjauh dari rombongan. Gegap gempitanya malam membuatku tak sadar, posisiku sangatlah berjarak dengan unta yang kunaiki. Selepas merampungkan keperluanku dan hendak kembali ke rombongan, tiba-tiba aku terkesiap bukan main. Kuraba leherku, kalung pemberian Rasulullah dari kota Zifar - Yaman raib. Kuputuskan mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah menemukan sebuah kalung. Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh kubiarkan begitu saja. Aku harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir, kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami. Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah, Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka meninggalkanku. Bagaimana ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka sendirian berlari? Tak mungkin. Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa yang akan mendengar. Air mataku meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali kejadian ini, tapi untuk apa? Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah kalungku ketemu. Rasa cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan melebur menjadi satu dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian Rasulullah. Oh ya, orang-orang yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh ringan, lantaran itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi mendahului rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring hanya sebuah haudah kosong tak berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu mereka kalau aku keluar sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang, para wanita kala itu umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau tidak ada orang di dalam haudah sepertinya sama saja.
Dengan penuh harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.  Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu hingga sampai ke Madinah.
Shafwan menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh dalam sengatan kantuk itu, ia pun berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi Allah, tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat istirja’ itu. Mulutku juga tak mengeluarkan kalimat apapun barang sekata. Ia rundukkan hewan tunggagannya hingga aku bisa menaiki hewan tunggangan itu.
Kami teruskan perjalanan menyusul rombongan, Shafwan berjalan menuntun tunggangannya hingga sampailah kami di sungai Az-Zahirah, tempat singgah rombongan di tengah panasnya siang. Dan celakalah, sebagian orang menebarkan fitnah kebohongan dengan menuduhku ini dan itu. Masih terekam dalam ingatanku yang paling getol menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain Abdullah bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan menyiarkan berita nista itu. Misthah bin Utsasah, Hamnah binti Jahs dan orang-orang lain yang tak kutahu namanya satu persatu yang jumlahnya sekitar 10 sampai 40, ikut pula menjadi biang gosip.
*  * *
Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu bulan. Sungguh, aku tak tahu-menahu fitnah kebohongan dan berita palsu itu telah memenuhi telinga masyarakat Madinah selama sebulan. Kecurigaanku pun muncul tatkala kelembutan Rasulullah mulai menipis dan tak seperti biasanya di saat aku melawan demam dan sakitku. Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau hanya menyapaku dengan bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu begitu saja.
Suatu malam, aku keluar ditemani Ibunda Misthah bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak kembali ke rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya sendiri, Misthah.
“Sungguh buruk kata-katamu. Apakah kau mencela seseorang yang pernah berjuang di peperangan Badar?” kataku padanya.
“Nak, tidakkah kau mendengar apa yang ia katakan?” ia malah bertanya kepadaku.
“Apa yang telah ia katakan?”
Ibu Misthah menceritakan tuduhan keji tentangku yang didengungkan oleh sebagian orang. Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya di rumah, aku meminta izin Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang tuaku, guna memastikan ke kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu. Rasulullah mempersilahkan.
Lalu aku bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi gunjingan orang-orang?”
Ibuku menenangkanku agar tidak risau dan gelisah. Mendadak mataku mendung, menderaskan air mata dan membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang cukup gusar akan suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,” begitulah jawaban Ali.
Rasulullah bertanya kepada Barirah tentangku, apakah ada sesuatu yang meragukan dari diriku? Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian Barirah menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
* * *
Sepanjang hari itu air mataku berlinang dan tidurku sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua orang tuaku berada di sisiku, aku tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air mataku bercucuran dan tidurku tak karuan. Salah seorang perempuan Anshar meminta izin untuk menemaniku. Ia pun turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum pernah duduk di sampingku selama tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika kau melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.”
Setelah Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus air mataku hingga tak tampak setetes pun. Aku meminta ayah dan ibuku agar membelaku di hadapan Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan sesenggukan aku berkata kepada mereka, “Aku hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji itu, kalian tak akan mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu –meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.”
Usai kuutarakan kegundahanku, tempat tidurkulah menjadi penenangku. Sungguh Allah mengetahui aku benar-benar bersih dari berita miring itu dan Allah yang akan membebaskanku. Jujur aku tak mengira Allah menurunkan wahyu membebaskanku dari tuduhan itu. Rasanya tak pantas bila wahyu turun lalu dibaca semua orang hanya menyoal tentang masalah pribadiku. Aku ini siapa hingga Allah membicarakan masalahku. Aku hanya mengharap Rasulullah mendapatkan wahyu melewati mimpi tentang pembebasanku dari fitnah itu.
Dan demi Allah, Rasulullah enggan beranjak dari tempat itu dan tak satu pun dari keluarga kami –ayah ibuku yang merupakan mertua Rasulullah- berminat melangkahkan kaki, hingga wahyu turun kepada Rasulullah. Seketika keringat beliau bercucuran bak butiran mutiara, padahal kala itu musim dingin amat menusuk tulang kami. Wajah beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai Aisyah,  sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari suamiku.
Spontan, ibuku menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain Allah.” jawabku.
Ya, akulah istri Rasulullah yang tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari tuduhan itu dengan firman-Nya yang membuat air mataku teduh. Aku Aisyah, istri Rasulullah yang terfitnah.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]
***











































































[1] Semacam tenda kecil sebagai penutup yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan untuk tempat perempuan-perempuan yang istimewa saat bepergian.
Share:

61 komentar:

  1. Tulisannya bagus kri, akan lebih baik lagi kalau yg inggris karya kamu itu di cantumkan translate.y juga.. biar pembaca langsung ngerti. Gak usah translate lagi... keren" semangat masih - 20 hal tuh.

    BalasHapus
  2. Oke, tulisan Anda sudah bagus
    ketika menjadi penulis pemula masih banyak kekurangan yang perlu untuk ditutupi, #saran saya sebaiknya dalam menulis cantumkan foto agar pembaca lebih bersemangat membaca tulisan nya,,, Good Job 👍

    BalasHapus
  3. Pada penulisannya ada yang sebagian paragraf baru di Tab ada juga yang ngak di tab

    BalasHapus
  4. mantap fikri,,,,
    suatu kebanggaan untukmu, bisa menguasai bahasa arab n inggris,,
    penulisannya bagus, n yang inggrisnya juga (lebih efisien jika di terjemahkan)
    tetap semangat. good job sobat..

    BalasHapus
  5. Hay pak fikri... ini temen ane nihhh.... temen gokill anee.... tulisan sampean dah bagus... tpi EYD .. Ojo lali

    BalasHapus
  6. Isinya bgus... tapi lebih di perhtikan Eyd nya yah dek... isyaallah.. akan menjadi penulis handal

    BalasHapus
  7. perbanyak perbendaharaan bahasa lagi ya :) semangan dan lanjutkan! jangan lupa komentar anda saya tunggu di
    fiskamahasantri-nusantara.blogspot.com

    BalasHapus
  8. hallo fikrii.....

    siiipphhh dah karyamu,,, tapi juga jangan lupa yah EYD-nya. ok
    SUKSES dahh buat FIKRI...

    BalasHapus
  9. mantap fikri...
    hanya perlu perbaikan dalam perbendaharaan katanya, supaya pembaca tidak bosan dalam menikmati setiap barisnya..
    lanjut berkarya dan terus menempa diri demi menjadi penulis sejati!

    BalasHapus
  10. penulisan huruf besar pada kata-kata yang seharusnya itu lebih diperhatikan yah balik komen

    BalasHapus
  11. mantap....... good job semoga sukses u fik.

    BalasHapus
  12. Salah satu anggota SOLIDARITAS? kaya gk pantas komen..apalg sudah sangat bagus..
    Elu keren fik...damang selalu..tulisannya keren atuh teh..
    Eta ayo komen...

    BalasHapus
  13. Good Brother
    Namanya manusia pasti punya kesalahan. Apalagi penulis2 pemula kyk kita gini (^^). Over all semuanya good.
    Ditunggu karya2 selanjutnya
    Keep writing
    Semangat kakak! !!

    BalasHapus
  14. Konsisten ya fikriii.. Pake aku atau saya.. Isinya juga menarikk.. Lain kali posting lagi ya

    BalasHapus
  15. Subhanallah sudah bagus bang,,,tetap semnagt,,,dan sekedar masukan ketelitian terhadap tulisan harus ditambah lagi ya,,,,

    BalasHapus
  16. menurutku, tulisan ini terlalu ilmiyah, masukan selingan-selingan candaan, atau apa gitu untuk membuat pembaca seakan-akan berkenalan langsung denganmu..just that i guess..

    BalasHapus
  17. betul kata rifqi, tulisan yang komunikatif bisa menghidupkan minat pembaca.
    tpi bagus kok. nggak ada tulisan yang sia-sia.
    terus leburkan pemikiranmu, kita sama-sama belajar.
    tulisanmu... brilian! (y)

    BalasHapus
  18. Mantap bang tulisannya, tp perlu lebih teliti lg ya bang dalam penulisannya.. hihii
    Go a head..

    Salam semangat (y)

    BalasHapus
  19. Secara keseluruhan sudah baik, tinggal cara menghubungkan antar paragraf dengan kata-kata yang lebih variatif. Konsistensi dalam menulis juga penting, semisal dari awal telah memakai kata aku maka usahakan ke bawah tetap.
    Kesalahan bukan sebuah aib, pak Prof said. Tetap semangat berkarya, ayo sukses bersama.

    BalasHapus
  20. Udah bagus vik, tambah lagi postingannya

    BalasHapus
  21. Mumtazzz (y) tapi perlu diperhatikan lagi EYD nya.

    Barakallahu laka najaah 😊

    BalasHapus
  22. Kalau bahasa asing miring kayak siroh

    BalasHapus
  23. Lanjutkan bro bagus udah tampak dirimu ciri ciri penulis besar

    BalasHapus
  24. fikriii,,, tetap semangat.......

    BalasHapus
  25. oh ya, jangan lupa blog-ku dikomen balik. k

    BalasHapus
  26. dari penulisannya udahhh bguss ,,,

    BalasHapus
  27. pemilihan kata2nyaa jugaa keren dan mantap...

    BalasHapus
  28. Awasome...
    Be a great journalist

    BalasHapus
  29. Usahakan tulislah seadanya...jgn terlalu dipaksakan kata2nya

    BalasHapus
  30. sya tunggu karya2 mu di jenjang selanjutnya

    BalasHapus
  31. mantap krii...
    karena anda bingung dengan tulisan anda sendiri. benar apa yang di katakan pak prof "Suatu saat anda akan tau bentuk apa tulisan anda ini".

    احسن اليك

    BalasHapus
  32. Seeepp....sudahh mantapp kok tetap lanjutkan ....

    BalasHapus
  33. Mantapp ...tapi tingkatkan lagi ketelitiannya ya....

    BalasHapus
  34. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  35. lebih di perhatikan lagi yah dalam penulisannya, ,

    BalasHapus
  36. Terus punya mimpi yang akan berkembang suatu hari nanti....



    #kurniawan.si

    BalasHapus
  37. lanjutkan karyamu! tetap istiqomahhh

    BalasHapus
  38. Tambahkan foto foto biar lebih menarik oke??

    BalasHapus
  39. Setelah saya cermati, anda mungkin lebih berpotensi kearah tulisan ilmiah. Tapi tulisan ini sudah lumayan bagus. Keep writing bro

    BalasHapus
  40. EYD lebih diperhatikan seperti penulisan 'pak prof'

    BalasHapus
  41. Satu lagi, semoga harapan dan cita-cita anda terwujudkan. Mabruk insyaallah. What you got is what you do!

    BalasHapus
  42. mengutip tulisan orang lain pun harus dirapikan paragrafnya

    BalasHapus
  43. Semangat lagi menulisnya.. ditunggu terbitan bukunya!!!

    BalasHapus
  44. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  45. Karyanya gak se buaya kata teman2 ke loh.karyanyabr rapi. Hehehe peace.
    Buku pertamanya nanti gratis buat aku yah!!

    BalasHapus
  46. mantap lah budak pasundan maah...
    semangat terus fikkk

    BalasHapus
  47. Paragrafnya brother
    Semangat melanjutkan kakak !!!

    BalasHapus

Blogger templates

Khairul V-Kry. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Pages

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support